Duka Pantai Kotor Siswa Sukma Kerabat jadi Relawan Kebersihan

Duka Pantai Kotor Siswa Sukma Kerabat jadi Relawan Kebersihan

Dapatkan promo member baru Pengeluaran SDY 2020 – 2021.

LANGIT terlihat sedikit mendung, sewajarnya sangat bersahat terhadap mereka dengan sedang beraktivitas di alam terkuak. Seolah memayungi anak manusia yang ada di muka bumi serta melindungi alam sekitarnya.

Suasana tepi miring Selat Malaka, tepatnya di tempat Desa Benteng, Kecamatan Kota Sigli, Ibukota Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh pukul 09. 30 Wib itu sangat teduh. Seolah ingin bersekutu dengan siapa saja yang medium berada di lokasi tersebut.

Satu kelompok siswa kelas XII SMA madrasah Sukma Bangsa Pidie, mulai pegari dan berkumpul di tepi miring berpasir hitam itu. Masing-masing bernama   Alfi Zamriza, Ghina Zuhaira, Raisa Devina, Sophia, Assya Azza Ulayya, Nur Fazilla, Syifa Salsabila dan Dhia-ul Basyirah.

Mereka sedang menempuh semester terakhir di lebaga pelajaran Yayasan Sukma Bangsa yang didirikan Media Group paska Tsunami Aceh 26 Desember 2004 itu.   Delapan siswa-siswi ini terkesima kala menerawang ke semua penjuru yang banyak berserakan sampah. Diantaranya ialah botol plastik, bekas bungkusan makanan, popok bayi, sandal bekas, sampah elektronik, berbagai jenis sampah rumah tangga dan banyak lagi lainya.

Merekapun terpikirkan, ini adalah suatu karakter kerabat yang masih krisis terhadap kesadaran memelihara kebersihan alam sekitar serta kelestarian bahari. Setelah berdiskusi kecil antar sesama, mereka langsung mengeluarkan karung plastik yang telah dipersiapkan untuk memungut dan memasukkan beragam sampah berbahaya tersebut. Guna menyembunyikan dari kemunginan tercemar bakteri, cukup umur pelajar ini tidak lupa mencantumkan sarung tangan.

“Kami menyelamatkan alam jadi habitat makluk hidup dan memelihara keletarian lingkungan demi masa depan yang lebih baik. Ini juga pertanda kami adalah golongan orang-orang beriman. Sebagaimana Rusulullah Bersabda: Kebersihan itu adalah setengah dari iman” tutur Ghina Zuhaira, seorang anggota kelompok dari Sekolah Sukma Bani (SSB) tersebut.

Setelah berbagai sampah kritis dipungut dari lokasi sekitar mulia kilometer di bibir pantai Selat Malaka itu, mereka memasukkan pada kantong-kantong plastik besar. Lalu ditumpuk pada satu titik di pelataran pasir pantai yang mudah terjangkau angkutan roda empat.

Kemudian mereka merongoh kocek mengumpulkan uang secara patungan untuk menyewa sebuah becak mesin yang memiliki bok khusus wadah sampah. Semua sampah dari hempasan ombak laut itu dibuang ke tempat pembuangan akhir milik Pemerintah Kabupaten Pidie, di kawasan hutan Kecamatan Padang Tiji, sekitar 10 Km arah Barat Kota Sigli.

Dianggap Ghina Zuhaira, kegiatan gerakan memungut sampah di bibir Selat Malaka yang dinamakan community service (cs) menjadi satu syarat kelulusan bagi siswa Sekolah Sukma Bangsa (SSB), Serta bentuk kepedulian para anak terhadap kebersihan di lingkungan miring. Kegiatan mulia ini juga digelar dalam rangka peringatan 16 tarikh bencana dahsyat gempa dan tsunami Aceh.

Kalau ada sekolah lain, menganggap sampah sebagai sanksi terhadap siswa yang melanggar aturan, tapi pada SMA Sukma Bangsa dijadikan adalah syarat kelulusan anak didik.

“Dengan adanya kegiatan ini diharapkan masyarakat setempat juga ikut sadar akan pentingnya menjaga kebersihan di area pantai agar tetap bersih dan indah” jelas Ghina Zuhaira.

Menurut Ghina, pihaknya prihatin melihat hasil penelitian World Economic Forum (WEF) tahun 2016 lalu, yang menyatakan  tiga negeri penyumbang terbesar sampah plastik pada laut. Masing-masing adalah Indonesia, Malaysia dan Filipina. Diperkirakan dari Nusantara saja 400 ribu ton kotor setiaptahun masuk ke laut.

Hanya 14 persen sampah di dunia yang bisa dan sudah didaur kembali. Selebihnya masih menjadi ancaman dunia hidup. Bila tidak segera diatasi, pada tahun 2050 dikhawatirkan populasi ikan di laut terus menyusut. Kemudian akan berbanding terbalik, yakni jumlah sampah lebih banyak sebab jumlah ikan.

Mereka berharap di tahun 2021 tidak ada lagi pencemaran laut dan lingkungan oleh sampah masyarakar. “Kita harus menyadari dan bertanggung jawab terhadap kelestrian alam yang bebas sampah” ketus Ghina Zuhaira. (OL-13)